IMQ, Jakarta —  Nilai belanja iklan pada tahun ini diperkirakan naik 15% dari realisasi tahun lalu yang mencapai Rp86 triliun.

“Saat ini, iklan di Indonesia didominasi oleh 10 besar industri, seperti telekomunikasi, fast moving consumer goods (FMCG), perbankan, dan pemerintahan. Nilai anggaran iklan tahun ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun lalu, namun belum mampu menembus Rp100 triliun,” kata Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI) Harris Thajeb di Jakarta, Rabu (18/7).

Harris menuturkan, nilai belanja iklan menjelang Ramadhan dan Idul Fitri pada tahun ini diperkirakan akan mengalami kenaikan sekitar 10-15%.

“Setelah satu pengiklan berhasil mem-book iklan untuk satu jenis produk, maka kompetitor lain dengan produk sejenis akan sulit untuk memasang iklan. Anggaran para pengiklan yang digunakan khusus untuk momen-momen itu juga akan mengalami kenaikan sekitar 10-15%,” paparnya.

Para pengiklan biasanya sudah mem-book iklan di media-media 2-3 bulan sebelum Ramadhan. Langkah tersebut dilakukan agar iklan tidak jatuh kepada kompetitor lain.

“Pada momen Ramadhan dan Idul Fitri, memang banyak sekali jenis produk yang ditawarkan kepada para pengiklan. Iklan-iklan tertentu yang jarang sekali muncul selama kurun waktu setahun, biasanya akan muncul pada momen Ramadhan seperti iklan produk sarung,” ujarnya.

Harris menambahkan, selain program acara regular, para pengiklan biasanya membidik program acara khusus untuk memasang iklannya.

“Para pengiklan akan memilih acara-acara yang bernuansa religi, seperti sinetron,” tandasnya.

Author: Indra BP