IMQ, Jakarta —  Dana Moneter Internasional (IMF) tidak mempunyai pemecahan masalah dalam menangani krisis ekonomi di dunia karena tidak mengenal karakteristik setiap negara yang telah diberikan bantuan.

“Selama ini, bantuan IMF tidak banyak berpengaruh terhadap negara-negara yang mengalami krisis keuangan. Negara yang menerima bantuan IMF menjadi terpuruk,” kata pengamat ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahunan Indonesia (LIPI) Latief Adam di Jakarta, Rabu (18/7).

Latief menuturkan, untuk kawasan Asia perlu dibuat lembaga penyeimbang seperti bank untuk Uni Eropa. Lembaga tersebut akan memberikan masukan kepada negara yang mengalami krisis agar tidak terjadi kesalahan dalam menangani krisis.

“Pada saat terjadi krisis di Yunani, IMF tidak mampu memberikan solusi karena Bank Sentral Eropa telah memberikan bantuannya. IMF memakai cara liberalisasi ekonomi yang tidak cocok dengan Yunani termasuk dengan Indonesia pada saat krisis moneter beberapa tahun yang lalu,” paparnya.

Negara-negara di Kawasan Asia diharapkan membuat lembaga penyeimbang seperti di Eropa. Di Asia perlu dibuat lembaga khusus menangani krisis keuangan.

“Di Asia, Jepang dan China merupakan negara yang bisa menjadi pelopor pendirian lembaga penyeimbang. Jika itu terealisasikan, maka IMF tidak akan melakukan tindakan yang salah,” tuturnya.

Latief menambahkan, saat ini merupakan momentum yang tepat untuk mendirikan lembaga penyeimbang. Dengan kinerja IMF yang terus menurun, negara di Kawasan Asia bisa memanfaatkan hal tersebut.

“Kebijakan IMF membawa dampak negative bagi beberapa negara yang menerima bantuan. Sudah saatnya Asia memanfaatkan kesalahan strategi IMF,” tandasnya.

Author: Indra BP