Foto: Dok. detikFinance

Jakarta – PT Bank Mandiri Tbk sedang gencar menjual obligasi rekapitulasi senilai Rp 54 triliun yang dimilikinya. Ini dilakukan demi mendapatkan dana segar ratusan juta dolar dalam bentuk kredit valas.

Direktur Utama Bank Mandiri Zulkifli Zaini mengatakan, pihaknya telah sejumlah menjual obligasi rekap ke Standard Chartered Bank. Penjualan obligasi tersebut ditukar dengan kredit valas yang didapatkan Bank Mandiri sekitar US$ 200 juta.

“Dan berikutnya akan kita lakukan lagi dengan satu bank lain, tapi belum bisa saya sebutkan namanya. Itu sudah dekat sekali. Mudah-mudahan kita akan dapat (pinjaman US$ 100 juta atau US$ 200 juta lagi,” kata Zulkifli ditemui di kediaman Gubernur Bank Indonesia, Jakarta, Senin (20/8/2012).

Selain itu, Zulkifli mengatakan, pihaknya juga meminta kepada pemerintah agar bisa membeli kembali (buyback) obligasi rekap yang dimilikinya.

Bank Mandiri memang berharap bisa menjual kepemilikan obligasi rekapitulasi (obligasi rekap) yang berjumlah Rp 78 triliun. Zulkifli mengaku, obligasi rekap yang available for sale alias bisa dijual senilai Rp 54 triliun. Obligasi rekap ini menurut Bank Mandiri malah hanya menambah beban perseroan.

Beban lebih tinggi akan ditanggung perseroan karena imbal hasil dari obligasi rekap siap jual Rp 53,7 triliun tergolong rendah, hanya 2%-3%. Padahal dana yang tidak sedikit ini, jika ditempatkan pada instrumen utang lain mampu menghasilkan yield minimal 8%.

Obligasi rekap adalah obligasi yang diterbitkan pemerintah sehubungan dengan Program Rekapitalisasi Perbankan di 1997/1998. Ketika itu, pemerintah menerbitkan obligasi senilai kurang lebih Rp 430 triliun. Obligasi ini untuk memperkuat permodalan perbankan nasional yang sekarat terhempas krisis.

Saat ini banyak obligasi rekap yang dipegang perbankan, nilainya mencapai kurang lebih Rp 200 triliun.

(dnl/dnl)